Rabu, 14 Desember 2011

Mencegah Anak Menjadi Pembohong

Ada pepatah bahwa anak tidak bisa berbohong. Tapi ternyata pepatah itu tidak sepenuhnya benar. Dan percaya atau tidak ternyata orangtua mempunyai andil membentuk anak memiliki sifat pembohong. Tulisan ini mencoba berbagi kepada para orangtua agar terhindar dari prilaku yang mengarah kepada pembentukan karakter pembohong pada anak.

Sifat berbohong adalah sifat alamiah atau naluriah yang dimiliki hampir semua mahluk hidup. Motivasi paling dasarnya adalah sebagai sarana mempertahan diri guna menjamin kelangsungan eksistensinya. Mimicry, merngubah warna kulit sesuai keadaan tempat binatang berada, adalah contoh berbohong yang paling native. Dengan mimicry  binatang membohongi lawan lawannya atau predatornya supaya tidak dimangsa. Pada manusia pada kondisi untuk mempertahankan diri dari hal hal yang membahayakan dirinya dapat ditolerir untuk berlaku bohong. Yang menjadi permasalahan adalah jika berbohong dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh keuntungan dirinya sendiri dan bukan semata mata untuk mempertahankan diri. Bila sifat bohong ini terus menerus dipelihara, dilakukan berulang-ulang, maka akan menjadi karakter yang sangat merugikan diri sensdiri dan orang lain, apalagi jika perbuatan bohongnya itu dilakukan dalam kerangka perbuatan kriminal dan korupsi, maka konsekuensinya adalah ia akan terjerat kasus hukum yang akan berujung di penjara. Oleh karena itu mencegah sifat bahong melekat pada karakter anak, sudah semestinya menjadi perhatian serius para orangtua.

Andil orangtua dalam proses terbentuknya kakarter pembohong pada anak dilakukan  dengan baik secara langsung maupun tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar, secara vulgar atau secara halus. Berikut ini beberapa kondisi yang memberi gambaran bagaimana proses terbentuknya karakter buruk itu terjadi pada anak.

Orang tua berperan secara langsung dalam pembentukan karakter pembohong pada anak apabila orang tua secara langsung menginstruksikan kepada anak untuk berbohong. Berikut contoh contohnya:

  • Nak, bila ada yang datang mencari bapak, katakan bapak tidak ada di rumah.
  • Nak, bila ada yang telpon, katakan bapak sedang di kamar mandi.
  • Nak, bila uang jajan kamu bapak kasih lebih, tapi jangan bilang bilang sama kakakmu.
  • Nak, uang jajan kamu hari ini sengaja dilebihkan, tapi jangan bilang kepada kakakmu. 

Orang tua juga dapat dikatakan mempunyai peran langsung dalam pembentukan karakter berbohong pada anak apabila orangtua memberi contoh secara langsung dihadapan anak bagaimana ia berbohong terhadap orang lain 

Orang tua juga dapat dikategorikan berperan aktif dalam membentuk sifat bohong pada anak apabila ia secara sadar mengajak anak atau melibatkan anak dalam suatu kegiatan yang tidak jujur guna memperoleh suatu tujuan. Misalnya orang tua menyuruh anaknya mengikuti les privat yang diberikan guru sekolahnya dengan tujuan mendapat bocoran soal ujian yang akan diujikan oleh gurunya di kelas.

Orang tua juga sering mempertontonkan sikap yang tidak mentaati suatu peraturan atau hukum yang berlaku di depan anak. Misalnya memberi contoh melanggar rambu lalu lintas dan ketika ditilang polisi, ia menyuap polisi tersebut. Atau, orang tua tidak mau mengikuti kegiatan kerja bakti dilingkungannya dengan alasan yang dicari cari.

Orang tua juga dapat dikategorikan mengajari sikap bohong kepada anaknya, apabila ia tidak menepati janjinya kepada anak dan anggota keluarga lainnya.

Orang tua juga dapat dikatakan memicu atau memotivasi anak berbohong apabila ia menempatkan anak pada situasi yang sulit jika tidak berbohong. Misalnya, ketika orang tua mengetahui bahwa di lingkungan sekolah pada umunya anak anak akan jajan es, atau minuman dingin, tetapi karena orang tua khawatir anaknya sakit, ia melarang anaknya minum es. Dan, ketika mengetahui anaknya tetap jajan es, orang tua memarahi atau menghukum anaknya dengan cara yang berlebihan. Pada posisi ini anak dihadapkan kepada pilihan yang sulit, ketika semua teman temannya jajan es, ia akan terprovokasi untuk ikut jajan es, dan untuk menghindari hukuman atau dimarahi orang tuanya maka anak akan berbohong kepada orang tuanya. Pada kondisi seperti ini orang tua dapat lebih bijak dan berpikir lebih jauh, apakah lebih suka anaknya tidak jujur atau anaknya terhindar dari batuk pilek karena minum es. Saya menyarankan orang tua lebih baik menasehati anaknya, bahwa boleh boleh saja minum es, dan itu hukumnya bukan haram, tetapi sebaiknya sebelum minum es memperhatikan kondisi kesehatan terlebih dahulu, jika lagi fit silakan saja minum es tapi jangan berlebihan, tetapi jika kondisi kesehatan tidak sedang fit sebaiknya jangan minum es terlebih dahulu. Jadi, orang tua membiasakan anak untuk bertanggung jawab atas kesehatan dirinya, sekaligus melatih kejujuran.
.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menghindari anak memiliki sifat pembohong, orang tua sebaiknya bersikap:
  • Tidak menyuruh anaknya berbohong.
  • Tidak melibatkan anak dalam suatu kebohongan dan kecurangan.
  • Tidak memberikan contoh melakukan suatu kebohongan.
  • Tidak melanggar janji kepada anak.
  • Tidak memberikan hukuman dan bersikap marah berlebihan jika anak menuruti keinginan orang tua.
  • Tidak memposisikan anak pada kondisi yang sulit untuk tidak berbohong.

Dan, pada intinya, untuk mencegah anak menjadi pembohong, jangan memberikan sinyal atau pesan kepada anak bahwa berbohong itu adalah perbuatan halal, atau diperbolehkan guna mencapai suatu tujuan. Sebab jika orang tua memberikan pesan bahwa berbohong itu perbuatan yang lazim, maka anak anda akan termotivasi untuk melakukan suatu kebohongan. Demikian, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar